Arsip untuk Kategori 'Keluarga'

…perubahan

Sedikit cerita tentang Alfia…..

Picture 229Tahun ajaran baru kali ini usianya masuk 3,5 tahun dan sudah mulai berkeinginan untuk masuk sekolah. Kami berusaha untuk mengikuti keinginannya dan mendaftarkan di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tempatnya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Awal masuk sekolah saya pesimis Alfia serius dengan keinginannya untuk sekolah karena benar-benar tidak mau mengikuti Bu gurunya dan banyak protes tentang sekolahnya.

Selama sebulan lebih sekolah, Alfia masih minta ditemani (Bundanya) dari awal sampai akhir (jam 8 s.d 10.30). Waktu itu kami tidak tau apa sebabnya kok Alfia jadi penakut, dan sepertinya ada yang membuat terdiam tidak mau bicara bahkan membuka mulutnya saja tidak mau. Saya sempat ngobrol dengan gurunya, dan jawaban gurunya juga “ah biasa saja kok nanti akan berangsur membaik dan akan berubah”. Keseharian Alfia yang ceria dan ceriwis (banyak pertanyaan) tidak muncul saat di sekolah waktu belajar. :-P

Sepertinya ada yang terlewati tahapan-tahapan masuk sekolah di PAUD itu yaitu perkenalan. Padahal, Alfia setiap bertemu anak kecil atau yang sebaya biasanya mengajak kenalan dengan berjabat tangan dan menanyakan nama. Dengan anak temen-temen kantor Alfia pernah bertemu dan kenalan, dalam beberapa waktu tidak bertemu setelah bertemu lagi masih tetep akrab dan bisa bermain dan ngobrol dengan bahasa anak-anak.

Minggu ini sampai dengan hari ini Alfia sudah bisa ditinggal tanpa harus ditunggu di dalam kelas karena sudah kenal dengan beberapa temannya (ada 4 anak yang sekarang mulai akrab). Terima kasih Bu guru, sudah membantu dan menerima usulan untuk memperkenalkan teman-temannya Alfia dengan cara berjabat tangan dan bergandengan tangan saat ada jadwal belajar di luar kelas dan makan bersama.

Terus semangat ya Nak….belajar sambil bermain di PAUD, kalau di rumah belajar dan bermain sama Bunda,  Ayah  (suka digangguin laptopnya buat nonton), adik Miqdada yang suka usil juga dan si mbak.

Berusaha dan berdo’a adalah wajib hukumnya, terima kasih juga buat Pak Bambang atas sarannya “berdoa saja Bu, namanya juga anak-anak. nanti kan pasti berubah dan jangan dipaksakan”

udah bisa bergaya

eksyen
di saung PAUD

di saung PAUD

Alfia-Miqdada

Alfia-Miqdada

Belajar dari Cara Sederhana

Baca dari sini, mempelajari dan menerapkan cara sederhana ini tidak ada salahnya. Apalagi saat seperti sekarang ini (jaman krisis :-P )

Masalah keuangan adalah hal yang umum dialami keluarga muda, apalagi di tahun-tahun pertama menjalani kehidupan berumahtangga. Belum lagi si kecil tak lama kemudian hadir di tengah Anda dan pasangan. Benarkah masalahnya terletak dari besar-kecilnya pendapatan keluarga?

“Seringkali masalahnya bukan terletak pada penghasilan yang kurang, tapi kebiasaan yang salah dalam mengelola uang,” ungkap Ligwina Hananto, ahli perencanan keuangan dalam sebuah acara Ayahbunda beberapa waktu lalu. Ternyata, dalam kenyataan, seorang ayah yang berpenghasilan ratusan juta rupiah bisa mengalami shock ketika menemukan uangnya tinggal Rp. 500.000,00 sebelum akhir bulan.

Ligwina memberikan beberapa kunci untuk mengelola keuangan secara sederhana:
1. Pahami portfolio keuangan keluarga Anda. Jangan sampai Anda tak tahu isi tabungan, jumlah tagihan listrik, telepon, servis mobil, belanja, biaya periksa dokter dan lainnya. Anda harus tahu berapa hutang kartu kredit, pinjaman bank atau cicilan rumah dan mobil.
2.    Susun rencana keuangan atau anggaran. Rencana keuangan yang realistis membantu Anda bersikap obyektif soal pengeluaran yang berlebihan. Tak perlu terlalu ideal, sehingga lupa kebutuhan diri sendiri. Tak ada salahnya memasukkan kebutuhan pergi ke salon, spa atau clubbing. Yang penting, anggarkan jumlah yang realistis dan Anda pun harus patuh dengan anggaran tersebut.
3.    Pikirkan lebih seksama pengertian antara “butuh” dan “ingin”. Tak jarang kita membelanjakan uang untuk hal yang tak terlalu penting atau hanya didorong keinginan, bukan kebutuhan. Buatlah daftar berupa tabel yang terdiri dari kolom untuk item belanja, kebutuhan dan keinginan. Setelah mengisi kolom item belanja, isilah kolom “kebutuhan” dan “keinginan” dengan tanda cek (V). Dari sini pertimbangkan dengan lebih matang, benda atau hal yang perlu Anda beli/penuhi atau tidak.
4.    Hindari hutang. Godaan untuk hidup konsumtif semakin besar. Tapi bukan berarti dengan mudah Anda membeli berbagai benda secara kredit. Tumbuhkan kebiasaan keuangan yang sehat dimulai dari yang sederhana, seperti tak memiliki hutang konsumtif.
5.    Meminimalkan belanja konsumtif. Bertemu teman lama untuk bertukar pikiran di kafe terkadang memang perlu, tapi tak berarti Anda harus melakukannya di setiap Jumat sore. Anda bisa gunakan pengeluaran ini untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain.
6.    Tetapkan tujuan atau cita-cita finansial. Susun target keuangan yang ingin Anda raih secara berkala, bersama pasangan. Tetapkan tujuan spesifik, realistis, terukur dan dalam kurun waktu tertentu. Tujuan ini membantu Anda lebih fokus merancang keuangan. Misalnya, bercita-cita punya dana pendidikan prasekolah berstandar internasional dan sebagainya.
7.    Menabung, menabung, menabung. Ubah kebiasaan dan pola pikir. Segera setelah menerima gaji, sisihkan untuk tabungan dalam jumlah yang telah Anda rencanakan sesuai tujuan atau cita-cita finansial keluarga Anda. Sebaiknya, Anda memiliki rekening terpisah untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari.
8.    Berinvestasilah! Tentu Anda tak akan puas dengan hanya menunggu tabungan membumbung. Padahal cita-cita Anda untuk keluarga “selangit”. Inilah saat yang tepat untuk juga memikirkan investasi. Kini bentuknya macam-macam. Takut akan risiko investasi?! Tak perlu khawatir, Anda hanya perlu belajar pada ahlinya. Konsultasikan keuangan Anda dengan ahli keuangan yang handal!

Halaman Berikutnya »