Nebeng saja

Tulisan perdana di tahun 2020. Bulan Januari saatnya merencanakan target – target selama setahun kedepan. Dimulai awal tahun ini bersamaan dengan awal semester genap. Mbak Alfia dan dik Miqda harus mempersiapkan menghadapi US dan UN.

Mini konser piano di sudah terlaksana pada 5 Januari 2020, Alhamdulillah lancar.

Bersyukur atas nikmat yang telah terlimpah untuk kami sekeluarga. Semoga rejeki yang halal, kesehatan dan keberkahan selalu mengiringi langkah kami. Aamiin

Jajan
Spaghetti wortel sosis
Cheese cake (enaaak)
5k perdana di tahun 2020

BAYI YANG BERBICARA DALAM BUAIAN

Ketika anda membaca Alquran dan Perjanjian Baru secara berdampingan dan memusatkan perhatian pada Kejadian Kelahiran (Nativity), anda akan menemukan adanya satu karakter yang sangat berbeda kemunculannya : Yosep. Menurut Injil, ia bertunangan dengan Maria sebelum Peristiwa Pengabaran Kehadiran Yesus (Annuciation) dan menikahinya segera setelah itu, sedangkan ia tidak pernah muncul dalam Alquran. Itulah sebabnya Muslim seringkali keheranan saat mengetahui bahwa penganut Kristiani berpandangan bahwa Maria memiliki seorang suami. Sedang berdasarkan pemahaman awam terhadap Al-Qur’an, Maria selalu lajang, tidak menikah. Seorang peneliti Kristen bahkan melihat adanya “petunjuk mengenai sikap asketik yang luar biasa” di sini, dalam arti bahwa “Maria tidak
membutuhkan kedekatan dengan sosok laki-laki karena Allah telah mencukupi semua kebutuhannya.”

Namun ketidakhadiran Yosep dalam Alquran menyisakan tanda tanya: bagaimana Maria dapat membuktikan bahwa putranya-yang-tak-ber-ayah bukanlah anak haram? Bagaimana dia dapat membuktikan bahwa dia tidak “melakukan perbuatan di luar batas,” sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang di sekelilingnya ketika mereka melihat bayi di gendongannya?

Injil kanonik yang mengisahkan kelahiran Yesus, yakni Matius dan Lukas, tidak mesti berhadapan dengan pertanyaan sejenis karena kehadiran Yosep dapat menyelesaikan persoalan ini. Meskipun Yosep bukanlah ayah kandung Yesus, namun ia dapat terlihat seperti itu, dan karenanya Maria selamat dari tuduhan. Namun dalam Al Qur’an, sang ibu-tunggal Maria serta-merta dituduh telah ternoda. Terlebih lagi, sebagaimana yang kita baca dari Al-Qur’an, pada saat kelahiran Yesus, Maria bersumpah untuk tidak-bicara karena perintah Allah:
“Hari ini aku tidak akan berbicara kepada manusia”
Jadi, wanita malang yang dituduh melakukan perzinahan itu bahkan tidak dapat berbicara untuk membela diri. Ini tentu situasi yang berbahaya, terutama dalam masyarakat (Yahudi) yang memastikan hukuman rajam bagi pelaku perzinahan.

Berdasarkan gambaran situasi yang demikian, Maria hanya dapat diselamatkan dari tuduhan melalui mukjizat, sebuah mukjizat dari bayi merah Yesus. Sebagaimana Al Quran mengisahkan kepada kita dalam surat Maryam:

maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan bayi dalam buaian?”
Dia (Isa as) berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
Itulah Isa putra Maryam, (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. (QS 19:29-34)

Bayi Yesus yang berbicara dalam buaian! Bagi pembaca Injil, sekali lagi, ini mungkin merupakan kisah yang asing. Bahkan kisah ini diajukan sebagai argumen untuk menentang Al-Quran oleh umat Kristen Katolik abad pertengahan, yaitu: karena tidak ada orang Kristen yang pernah mendengarnya, maka itu pasti hanyalah mitos. Menjawab argument tersebut, mufasir Muslim Fakhraddin al-Razi membahas “Mengapa umat Kristen menyangkal bahwa Yesus berbicara dalam buaian,” terlepas bahwa ini merupakan salah satu peristiwa yang paling mencengangkan dan luar biasa. Dia berargumen bahwa kemungkinan mukjizat itu tampil hanya di hadapan beberapa orang saja, yang lalu bersepakat untuk merahasiakannya. Di kemudian hari kisah ini diungkap kembali oleh mukjizat yang lain, yakni wahyu Al-Qur’an.

Meskipun demikian, kisah bayi Yesus yang berbicara dalam buaian yang menakjubkan dan luar biasa ini nyatanya ada dalam tradisi Kristen yakni dalam teks apokrifa (apocryphal) yang banyak dilupakan: The Syriac Infancy Gospel atau yang dikenal juga sebagai The Arabic Infancy Gospel. Dokumen ini diyakini sebagai tulisan dari abad ketujuh yang populer di kalangan warga Nestoria di Suriah. Ini adalah dokumen dalam genre yang sama dengan Protoevangelium of James dan Gospel of Pseudo-Matthew, dan pada kenyataannya memang mengadopsi banyak hal dari keduanya. Sebagaimana dua dokumen yang terakhir, The Syriac Infancy Gospel adalah Injil yang menceritakan masa kanak-kanak, yang berfokus pada kehidupan Yesus saat bayi dan anak-anak. Lagi-lagi serupa dengan dua dokumen terakhir, The Syriac Infancy Gospel juga menceritakan banyak kisah mukjizat tentang Yesus, salah satunya dilaporkan tepat di awal teks:

Yesus berbicara … ketika Dia berada dalam buaian-Nya, berkata kepada ibu-Nya: Aku adalah Anak Allah, Logos, yang telah engkau hadirkan, seperti yang dikabarkan oleh Malaikat Jibril kepadamu; dan Bapa saya telah mengutus saya untuk sebagai penyelamat dunia.

Sangat jelas, bagian ini berbeda dari kisah Yesus-dalam-buaian yang diungkap Alquran. Di sini Yesus yang baru lahir berbicara kepada ibunya. Sedangkan dalam Al-Quran ia berbicara kepada orang-orang Yahudi yang mempertanyakan kesucian ibunya. Di sini Yesus yang baru lahir berkata, “Aku adalah Anak Allah, Logos.” Sedangkan dalam Al Qur’an, ia berkata, “Aku adalah hamba Allah… Ia menjadikan aku seorang Nabi.” Kedua teks tersebut, dengan ungkapan lain, menjelaskan perkataan Yesus dari sudut pandang teologi masing-masing.

Kisah selebihnya dari The Syriac Infancy Gospel memang berbeda dari Al-Qur’an. Namun tetap saja dokumen tersebut adalah satu-satunya sumber dalam tradisi Kristen yang menggambarkan seorang bayi Yesus yang berbicara dalam buaiannya. Berdasarkan Al-Qur’an, kita menangkap kesan bahwa tema ini sangat penting dan ditekankan secara khusus. Selain rangkaian kisah yang yang baru saja dikutip dari surat Maryam, kita juga membaca kisah ini dari surat Al-Imran:

ketika para malaikat berkata,
“Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (fir-man) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Dan dia berbicara dengan manusia saat dalam buaian dan saat sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh”. (QS 3:45-46)

Sumber:
Diterjemahkan dari subbab, An Articulate Newborn, Bab 5, Mary and Her Baby, dari buku The Islamic Jesus, How The King of The Jews Became a Prophet of The Muslims.

Latihan Jalan menuju pembiasaan

Bukan belajar berjalan selayaknya balita usia setahunan. Untuk saya, ini merupakan latihan fisik agar stamina tetep bugar tidak mudah capek atau loyo. Yaaa…..memang berat awal-awal mencoba karena jarang atau belum pernah melakukannya. Mudah-mudahan bisa istiqomah latihannya demi kesehatan. Target tidak perlu muluk-muluk, cukup butuh konsisten latihan seminggu 3x minimal 40 menit. Pertama kali mencoba latihan kira-kira akhir 2016.

Pertemuan singkat

Pertemuan yang sudah direncanakan lumayan bisa melepas rasa kangen diantara kita, walaupun formasi tidak lengkap. Lima pasang yang bisa bergabung pada pertemuan (baca: makan siang), Bapak H. Heriyanto beserta Ibu, Bapak H. Dadang Herman beserta Ibu dan cucunya, Bapak H. Djoko beserta Ibu, Bapak H. Agus beserta Ibu, dan Kami (Suami dan saya). Terima kasih oleh-oleh dari semarang (dari Bapak dan Ibu H. Agus) wingko, tahu bakso, sambal jambal yang kebetulan beliau tinggal di semarang. Dan Ada sendal dari Bapak dan Ibu H. Djoko, katanya sendal ini untuk mengingatkan bahwa pernah jadi perlengkapan utama sewaktu ibadah di sana, awet.

Iyaa…kami semua ngobrol berbagi cerita dan makan-makan. Pokoknya ngangeni.

next time…
semoga bisa ketemuan dengan formasi lengkap dengan kondisi sehat wal afiat

Semangat Baru

Selamat memasuki tahun ajaran baru 2019/2020, semoga semangat baru tumbuh dalam diri kalian. Alfia kelas IX dan Miqdada kelas VI, sama-sama mempunyai tantangan untuk mengejar  memahami dan menyelesaikan materi pelajarannya untuk persiapan US dan UN. Semoga diberikan kelancaran kemudahan dan keberkahan dalam mencapai semua cita-citamu. Sholawat


Halaman

Kategori

September 2020
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930